Kuliah Umum Fakultas Dakwah UNIIB, Respons Krisis Mental di Era Post-Truth

BANYUWANGI — Di tengah derasnya arus informasi digital, tekanan sosial yang kian kompleks, serta kaburnya batas antara fakta dan opini, persoalan kesehatan mental dan ketahanan masyarakat menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Tingginya tekanan psikologis, kecemasan, degradasi nilai etika dan spiritual, hingga kesenjangan sosial menunjukkan bahwa penguatan masyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan struktural dan ekonomi. Ketahanan individu, kedalaman spiritual, serta lingkungan sosial yang mendukung juga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya.

Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Dakwah Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) menggelar kuliah umum bertajuk “Merawat Jiwa, Menguatkan Masyarakat” pada Sabtu (17/10/2026), bertempat di Auditorium KHR. As’ad Syamsul Arifin UNIIB. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan pentingnya keterhubungan antara kesehatan psikologis, nilai-nilai spiritual, dan pengembangan masyarakat dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan kontemporer.

Tema tersebut menegaskan bahwa persoalan jiwa tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial yang melingkupi kehidupan manusia. Krisis mental yang dipicu tekanan sosial dan digital, tantangan moral akibat melemahnya penghayatan nilai etika dan spiritual, serta keterbatasan ruang pemberdayaan ekonomi dan pengembangan keterampilan masyarakat merupakan persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, upaya membangun masyarakat yang kuat memerlukan pendekatan terpadu yang menyentuh dimensi psikologis, spiritual melalui dakwah, serta lingkungan sosial melalui pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, Dekan Fakultas Dakwah UNIIB, Ainur Rofiq, S.Sos.I., M.Sos., menyampaikan bahwa pelaksanaan kuliah umum tahun ini memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan hanya diikuti mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), tahun ini peserta juga berasal dari Program Studi Psikologi Islam (PSI), yang mulai beroperasi pada tahun akademik ini.

Menurut Ainur Rofiq, keterlibatan mahasiswa dari kedua program studi tersebut menjadi relevan dengan tema yang diangkat. Pengembangan masyarakat dan pemahaman psikologis memiliki keterkaitan dalam upaya menjawab persoalan individu maupun kolektif. Keduanya dapat saling melengkapi untuk membangun masyarakat yang tidak hanya berdaya secara sosial, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan spiritual.

Ia juga menyoroti kondisi masyarakat di era post-truth, ketika kebenaran kerap menjadi kabur di tengah derasnya informasi, opini, dan berbagai klaim yang beredar di ruang publik. Situasi tersebut menuntut kesiapan mental dan psikologis agar masyarakat mampu menghadapi ketidakpastian, menyikapi informasi secara kritis, serta mempertahankan kejernihan berpikir di tengah dominasi narasi yang belum tentu memiliki dasar kebenaran yang kuat.

“Jadi, di era post-truth ini kita memerlukan mental yang tangguh. Di tengah-tengah permainan klaim kebenaran yang parameternya sudah kabur, kita juga membutuhkan wawasan pengembangan aspek psikologis di satu sisi, dan spiritual di sisi lain. Juga yang tak kalah penting, yakni pengembangan masyarakat yang lebih adaptif, tetapi senantiasa kritis terhadap gejala dan fenomena hari ini,” tutur Rofiq.

Kuliah umum ini menghadirkan Erfan Efendi, M.Pd.I., dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember, sebagai narasumber. Kehadirannya diharapkan dapat memperkaya perspektif akademik mahasiswa mengenai pentingnya merawat kesehatan jiwa sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan dan tantangan sosial.

Kegiatan diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Dakwah UNIIB serta dosen-dosen di lingkungan fakultas. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan mahallul qiyam yang dipimpin oleh M. Reza Husnul Marom, mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam semester 7. Setelah itu, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebelum memasuki sesi sambutan dan pembukaan resmi kegiatan oleh Dekan Fakultas Dakwah.

Rangkaian seremonial ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Kaprodi PMI), Muhammad Sahlan, M.A., sebelum kegiatan berlanjut pada sesi inti kuliah umum.

Dengan diselenggarakannya kuliah umum ini, Fakultas Dakwah UNIIB menegaskan pentingnya pendekatan keilmuan yang menghubungkan dimensi psikologis, spiritual, dan sosial. Merawat jiwa bukan semata-mata persoalan individu, melainkan juga bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang tangguh, berdaya, dan mampu menghadapi kompleksitas zaman. Dengan demikian, dakwah dan pengembangan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada penyampaian nilai, tetapi juga hadir sebagai upaya nyata dalam memperkuat kualitas kehidupan manusia.